Minggu, 30 Januari 2011

Nama :Sri Nurhayati
Kls :x1
No :016
 
 
MINGGU KE SATU17JANUARI 22

NO
HARI /TANGGAL
KETERANGGA
1
Senin 17 januari 20111.Membersihkan leb
2
Selasa 18 januari 20111.Mengonekan Jaringan
2.Ngrimping Kabel
3.Membersihkan Leb
4.Menonekan internet
3
Rabu 19 januari 20111.Membuat webshoting
2.Menstatikan IP
3.Add Printer
4
Kamis 20 januari 20111.Sakit
5
Jumat 21 januari 20111.Sakit
6
Sabtu 22 januari 20111.Menginstal ubuntu server

 
 
MINGGU KE DUA TGL 24 JANUARI 29
 
 

NO
HARI / TANGGAL
KETERANGGAN
1
Senin 24 januari 20111.PIKET
2
Selasa 25 januari 20111.Konfigurasi DNS Server
2.Menjalankan Clearos di virtual box
3
Rabu 26 januari 20111.Berbagai Fail di windows seven
2.Menginstal windows xp
4
Kamis 27 januari 20111.Instal USB kamera
2.instal smadav
3.Instal office 2007
5
Jumat 28 januari 20111.Tafis
6
Sabtu 29 Januari 20111.Ngrimping kabel

Jumat, 28 Januari 2011

KISAH TELADAN KEPADA ORANG TUA

Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan kekufuran. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita.
Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku benci. Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku mengadu.
“Wahai Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku. Hari ini, dia berkomentar tentang dirimu yang aku benci. Mohonlah kepada Allah supaya memberi hidayah ibu Abu Hurairah”. Rasulullah bersabda : “Ya, Allah. Tunjukilah ibu Abu Hurairah”. Aku keluar dengan hati riang karena do’a Nabi. Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu terbuka. Ibuku mendengar kakiku dan berkata : “Tetap di situ Abu Hurairah”. Aku mendengar kucuran air. Ibu-ku sedang mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya serta menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia berkata : “Wahai, Abu Hurairah ! Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu”. Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan menangis gembira. Aku berkata, “Wahai, Rasulullah, Bergembiralah. Allah telah mengabulkan do’amu dan menunjuki ibuku”. Maka beliau memuji Allah dan menyanjungNya serta berkomentar baik” [Hadits Riwayat Muslim]
Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya : “Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku) wahai Ibnu Umar?” Beliau menjawab : “Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)”.
Zainal Abidin, adalah seorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang keheranan kepadanya (dan berkata) : “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam satu talam”? Ia menjawab,”Aku khawatir tanganku mengambil sesuatu yang dilirik matanya, sehingga aku durhaka kepadanya”.
Sebelumnya, kisah yang lebih mengharukan terjadi pada diri Uwais Al-Qarni, orang yang sudah beriman pada masa Nabi, sudah berangan-angan untuk berhijrah ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi. Namun perhatiannya kepada ibunya telah menunda tekadnya berhijrah. Ia ingin bisa meraih surga dan berteman dengan Nabi dengan baktinya kepada ibu, kendatipun harus kehilangan kemuliaan menjadi sahabat Beliau di dunia.
Dalam shahih Muslim, dari Usair bin Jabir, ia berkata : Bila rombongan dari Yaman datang, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka : “Apakah Uwais bin Amir bersama kalian ?” sampai akhirnya menemui Uwais. Umar bertanya, “Engkau Uwais bin Amir?” Ia menjawa,”Benar”. Umar bertanya, “Engkau dari Murad kemudian beralih ke Qarn?” Ia menjawab, “Benar”. Umar bertanya, “Engkau punya ibu?”. Ia menjawab, “Benar”. Umar (pun) mulai bercerita, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Akan datang pada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman yang berasal dari Murad dan kemudian dari Qarn. Ia pernah tertimpa lepra dan sembuh total, kecuali kulit yang sebesar logam dirham. Ia mempunyai ibu yang sangat dihormatinya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya aku hormati sumpahnya. Mintalah ia beristighfar untukmu jika bertemu”.
(Umar berkata), “Tolong mintakan ampun (kepada Allah) untukku”. Maka ia memohonkan ampunan untukku. Umar bertanya, “Kemana engkau akan pergi?”. Ia menjawab, “Kufah”. Umar berkata, “Maukah engkau jika aku menulis (rekomendasi) untukmu ke gubernurnya (Kufah)?” Ia menjawab, “Aku lebih suka bersama orang yang tidak dikenal”.
Kisah lainnya tentang bakti kepada ibu, yaitu Abdullah bin Aun pernah memanggil ibunya dengan suara keras, maka ia memerdekakan dua budak sebagai tanda penyesalannya.
[Diadaptasi dari Idatush Shabirin, oleh Abdullah bin Ibrahim Al-Qa’rawi dan Ilzam Rijlaha Fatsamma Al-Jannah, oleh Shalihj bin Rasyid Al-Huwaimil]

Mencari Rezeki dari Jalan yang Halal

Merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya keberkahan harta kita ialah harta tersebut diperoleh dari jalan-jalan yang halal.

(لا تستبطئوا الرزق ، فإنه لن يموت العبد حتى يبلغه آخر رزق هو له، فأجملوا في الطلب: أخذ الحلال، وترك الحرام (رواه ابن ماجة وعبد الرزاق والحاكم، وصححه الألباني
“Janganlah kamu merasa, bahwa rezekimu terlambat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan al-Hakim, serta dishahihkan oleh al-Albani).
Di antara hal yang akan menghapuskan keberkahan ialah berbagai bentuk praktik riba,
يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (Qs. al-Baqarah: 276).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala mengabarkan, bahwa Ia akan memusnahkan riba, maksudnya bisa saja memusnahkannya secara keseluruhan dari tangan pemiliknya atau menghalangi pemiliknya dari keberkahan hartanya tersebut. Dengan demikian, pemilik riba tidak mendapatkan kemanfaatan harta ribanya, bahkan Allah akan membinasakannya dengan harta tersebut dalam kehidupan dunia, dan kelak di hari akhirat Allah akan menyiksanya akibat harta tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/328).
Penafsiran Ibnu Katsir ini semakna dengan hadits berikut,
(إن الربا وإن كثُرَ، عاقبتُه تصير إلى قَلَّ  (رواه أحمد الطبراني والحاكم وحسنه الحافظ ابن حجر والألباني
“Sesungguhnya, (harta)  riba walaupun banyak jumlahnya, pada akhirnya akan menjadi sedikit.” (HR. Imam Ahmad, ath-Thabrany, al- Hakim dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dan al-Albany).
Bila kita mengamati kehidupan orang-orang yang menjalankan praktik-praktik riba, niscaya kita dapatkan banyak bukti tentang kebenaran ayat dan hadits di atas. Betapa banyak pemakan riba yang hartanya berlimpah ruah, hingga tak terhitung jumlahnya, akan tetapi tidak satupun dari mereka yang merasakan keberkahan, ketentraman dan kebahagiaan dari harta haram tersebut.

Agar Bersabar dalam Menghadapi Musibah

      Kalau boleh kita memastikan, maka nyaris tidak ada kehidupan yang sepi dan lepas dari musibah atau cobaan. Pasti dan pasti setiap kita akan mengalaminya, mau tidak mau kita akan menghadapinya, rela ataupun tidak rela kita akan merasakannya, suka atau benci kita pasti akan menerimanya. Dengan itulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguji di antara hamba-hambaNya, siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya? Siapakah di antara hambaNya yang mau menyikapi musibah tersebut dengan rasa sabar dan rela atas takdir yang telah ditentukanNya, dan siapakah diantara mereka yang tetap istiqamah sekalipun musibah demi musibah selalu menerpa silih berganti seakan-akan tidak pernah ada kesudahannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “(Allah Subhanahu Wa Ta’ala) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Ketahuilah! Bahwa tidak ada musibah yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala timpakan kepada hambaNya, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menakar kadar musibah tersebut sesuai dengan kadar kemampuan hambaNya. Dan musibah merupakan salah satu sebab seorang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahkan semakin besar musibah yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan, maka semakin besar pula pahala dan kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba tersebut. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya cobaan (musibah), dan sesungguhnya apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan cobaan kepada mereka, maka barangsiapa ridha, maka baginya keridhaan dari (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) dan barangsiapa yang benci, maka baginya kebencian dari (Allah Subhanahu Wa Ta’ala).” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Oleh karena itu seorang muslim hendaklah ia mengetahui kiat-kiat agar dia mampu bersabar dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Di bawah ini di antara kiat-kiat yang dapat membuat dan menumbuhkan rasa sabar ketika menghadapi musibah, yakni:
1. Mengetahui balasan dan pahalanya. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, ya Allah berilah aku pahala dari musibahku ini dan berilah untukku ganti yang lebih baik darinya, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikannya pahala pada musibahnya tersebut dan memberikan ganti untuknya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim).
2. Mengetahui bahwa musibah dapat meleburkan dan menghapuskan dosa-dosa. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin tertimpa penyakit, cobaan, kesusahan, kecemasan, dan kesedihan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghapuskan dosa-dosanya.” (Muttafaq ‘Alaih).
Begitu pula Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Cobaan senantiasa akan menerpa orang yang beriman baik lelaki maupun perempuan, baik pada dirinya, anaknya, dan begitu pula pada hartanya, sampai ia bertemu dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak ada satu pun dosa yang ia miliki.” (HR. at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ahmad).
3. Beriman dengan takdir yang telah terjadi seperti musibah yang menimpanya. Sesungguhnya musibah tersebut telah ditentukan/ ditakdirkan di dalam ‘Ummu al-Kitab’ sebelum ia diciptakan, maka ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Dan ketidaksabaran seseorang tidaklah menambah sesuatu apa pun kepadanya kecuali musibah itu tetap terjadi.
4. Mengetahui hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dirinya dalam musibah tersebut. Adapun kewajiban seseorang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam menghadapi musibah, tidak disangsikan lagi adalah bersabar. Atau sabar dan ridha, menurut salah satu di antara dua pendapat yang ada. Maka dia diperintahkan untuk menunaikan hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tetap beribadah hanya kepadaNya dalam menghadapi musibah tersebut. Dan ini adalah wajib baginya, jika tidak, maka akan semakin bertambahlah musibah tersebut atas dirinya.
5. Mengetahui bahwa musibah merupakan akibat/ konsekuensi dari dosa yang dilakukannya. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. asy-Syura: 30).
Maka hal ini bersifat umum pada semua musibah baik yang kecil maupun yang besar. Maka hendaklah seseorang ketika mendapatkan sebab ini menyibukkan diri dengan selalu memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala (istighfar), karena istighfar merupakan faktor yang paling besar dalam mencegah terjadinya musibah. ‘Ali bin Abu Thalib Rodhiyallohu ‘Anhu berkata, “Musibah tidak akan menimpa kecuali karena dosa (yang diperbuat), dan musibah tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”
6. Mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala meridhoi musibah itu baginya dan telah memilih serta menentukannya, sedangkan ibadah menuntut keridhoan seseorang kepada apa yang diridhoi Tuhannya.
7. Mengetahui bahwa musibah ini adalah obat yang bermanfaat yang diberikan oleh Sang Maha dokter kepadanya Yang Maha Mengetahui akan kemashalatannya, serta lagi Maha Penyayang kepadanya. Maka hendaklah dia bersabar atas (musibah) yang dialaminya. Dan hendaklah dia tidak mengekpresikannya dengan rasa tidak suka (atas musibah tersebut, pen.) dan mengeluhkannya, maka hilanglah manfaatnya.
8. Mengetahui bahwa kesudahan/ efek dari obat ini adalah kesembuhan, keselamatan, kesehatan, hilangnya rasa sakit yang tidak diperoleh dengan selainnya. Jika dirinya tidak suka dengan obat tersebut karena rasanya yang pahit, maka hendaklah dia melihat kepada efek dan pengaruhnya yang baik/ positif. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216.
9. Mengetahui bahwa musibah tidak datang untuk membinasakan atau membunuhnya, sesungguhnya ia datang hanyalah untuk menguji kesabarannya. Maka saat itu menjadi jelaslah apakah dia layak untuk menjadi penolongNya dan layak dijadikan sebagai salah satu di antara wali-waliNya (kekasihNya) dan golonganNya atau tidak? Dan karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanyalah Dia berikan kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang mempunyai karunia yang besar.
10. Mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendidik hambaNya baik dengan kesenangan dan kesulitan, nikmat dan musibah, maka hendaklah dia tetap beribadah kepadaNya dalam setiap keadaan. Karena hakikat seorang hamba adalah orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di setiap situasi dan kondisi apapun. Dan hendaklah dia berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berdzikir kepadaMu, bersyukur (atas nikmat) Mu, dan membaguskan ibadah kepadaMu.”
Maka sebab ini dan yang semisalnya lah yang akan membuahkan kesabaran dalam menghadapi musibah. Jika semakin kuat, maka niscaya akan membuahkan keridhaan dan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Ciri Wanita Muslimah Ahli Surga

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Di antara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :
  1. 1. Bertakwa.
  2. 2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
  3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
  4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
  5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
  6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.
  7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
  8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
  9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
  10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
  11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.
  12.  Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
  13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
  14. Berbakti kepada kedua orang tua.
  15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.
Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman : “ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13)
Wallahu A’lam Bis Shawab.

laporan PSG

LAPORAN
PRAKTEK KERJA INDUSTRI (PSG )
TAHUN 2010/2011

Senin
17 januari 2011
Kegiatan
.Merapikan leb setelah kita merapikan leb kita bukak facebook

Selasa
18 januari 2011
Kegiatannya
Mengoneksikan jaringan
Mengrimping kabel
Membersihkan leb
Mengonekan internet
Carannya
1. Open network and sharing center setelah itu klik local area connection setelah itu klik properties lalu ok.
2. Klik internet protocol version 4 (TCP/IPV4),lalu klik properties atau IP Addess.
3. Klik use the fellowing IP Addres,lalu ketikan IP Addres,subnet mask, default gateway.
4. Klik use following DNS Server addresses



Rabu
19 januari 2011
Kegiatanny
.Add Printer
.Menstatikan IP
Membuat web hosting

Langkah Add Printer adalah
Klik Start
Klik Devices and printers
Add a Printer
Add a network, wirless or Bluetooth printer
Pilih sesuai yang kita inginkan lalu Next
CaRa Menstatikkan LaNgKaH Di WINDOWS SEVEN
1) OpEn control panel (OPen network And Sharing Printer)
Network and internet (view network status and tasks)
local area network
propertis
internet protocol version 4 (TCP/IPv4)
propertis lagi
klik user the fllowing ip aderess
dan IP Aderss Server
kemudian isi.
kemudian OK
2)LaNgKaH meLiHaT StAtIc / BeLuM
Control panel
Network and internet (view network status and tesks)
local arae network
Details
Jika NO Berarti telah berhasil (StAtic)
Langkah_Langkah Menstatikan IP Di linux
1)Klik kanan
Edit Connection
Wired
Add
IPv4 Setting
Bagian Method :Pilih MaNual
Add Kemudian Isi :
Adress :192.168.1.xx
NetMask :24 /255.255.255.0
Dan Gateway : 192.168.1.254
Dan DNS Server jg Yang Sesuai Dgn Informasi Almat IP anda
Close
2) Langkah Mengetahui Static nya
Ping Alamat IP nya Melalui Komputer Yang Lainnya

“Dahulu, wanita adalah makhluk kelas dua. Kehadirannya tak pernah digubris di kehidupan kemasyarakatan. Ia bahkan dianggap sebagai pemuas birahi saja bagi kaum lelaki. Hingga Islam datang memberikan kemuliaan, memahkotakan kehormatan pada tiap episode hidupnya. Hingga mereka mentera sejarah. Mulai dari ceritera ilmu, hingga darah yang tertumpah....”

Kata The Changcuters, wanita adalah racun dunia. Kata Naff, wanita justru mati dan hidupnya. Membingungkan? Owww jelas. Kata-kata yang tertulis di lirik barudak band tersebut belum seberapa. Ada yang lebih membingungkan.

Umar bin Khaththab mengisahkan bahwa, “Pada zaman jahiliyah kami tak pernah memberikan hak apapun bagi wanita. Sampai Allah menurunkan perintah yang penting pada mereka dan memberikan pada mereka bagian yang tepat.” Atau Aristoteles yang justru memandang wanita sebagai makhluk yang ‘belum selesai penciptaannya’. Atau juga dalam Rig Weda yang tertulis, “Tidak boleh menjalin persahabatan dengan wanita. Pada kenyataannya, hati wanita adalah sarang serigala!”

Tetapi, tidak dengan Islam. Ia hadir menyejukkan. Ia hadir menenteramkan. Ia hadir memberikan peluang yang sama besar pada laki-laki maupun perempuan untuk mereguk sebanyak mungkin pahala yang Allah sediakan bagi mereka yang beramal. Kriteria penilaian hanyalah sesiapa yang bertaqwa, ia yang berhak surga.

Oleh itulah buku ini ditulis. Ia disuguhkan untuk mencerahkan langit kehidupanmu wahai para muslimah. Agar engkau tegar, agar engkau sadar. Bahwa engkau lah sosok yang selalu mentera sejarah. Sosok yang selalu ditunggu peranmu untuk kebangkitan ummah. Seperti Khadijah. Layaknya Aisyah.

Menggesakan laju semangatmu untuk berkarya, mengeratkan simpul imanmu agar senantiasa menjadi penerang bagi setiap episode hidupmu. Dengan menggunakan bahasa yang meliuk indah, tidak membaku, dan seolah mengajakmu bicara dari hati ke hati, penulis begitu apik memaparkan rentetan kata dalam tiap chapter-nya. Kemudian, bunga imanmu pun mekar dan mewangi hingga ke surga!